KOTA KUPANG, TBO - Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke 143 Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Kota Jepara, Kepala Sekolah SMAN 5 Kupang, Veronika Wawo., S.Pd., M.Pd berhasil melaunching dan membedah buku yang berjudul Jejak Langkah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula SMAN 5 Kupang Jl. Thamrin No.7, Oebufu, Kec. Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/4).
Launching dan bedah buku tersebut menghadirkan empat orang pembedah yakni Dr. Marselus Robot., M.Si (Dosen Undana), Laurensius H, SP.d, MM (Guru SMAN 5 Kupang) Dr. Firmina A, Nai, M.Si (Dosen Undana). Dr.Paulus Taek, M.Si (Dosen Undana)
Usai melakukan kegiatan melaunching dan membedah buku tersebut, Veronika Wawo kepada awak media mengatakan bahwa yang memotivasi dirinya untuk menulis buku tersebut karena setiap kegiatan atau aktivitas apa saja yang dibuat kadangkala tidak dicatat atau ditulisnya sehingga ketika ada tuntutan bahwa guru ketika melakukan aktivitas harus ada agenda.
Maka setiap jejak langkah yang dikerjakan harus dicatat dengan baik. Nah ini kadang - kadang tidak dimanfaatkan dengan baik tetapi dibuang begitu saja.
"Jadi ketika kita memerlukan dan mencari catatan tersebut namun sudah tidak ada. Ini yang memotivasi saya untuk menulis buku ini," kata Veronika.
Dikatakan Veronika bahwa awalnya ia juga pesimis sebab melihat perjalanan kehidupan mencatat dan menulis merupakan motivasi bahwa tidak semua anak petani atau orang yang tidak mampu bisa mencapai suatu prestasi.
Ia mengambil judul jejak langkah pahlawan tanpa tanda jasa karena guru itu kadang - kadang hanya pada saat pahlawan tanpa tanda jasa biasanya dinyanyikan terpuji lah engkau wa hai ibu bapak guru pada saat mengusung peti jenazah ke tempat pemakaman. Sementara banyak sekali perbuatan mulia yakni memanusiakan manusia menjadi manusia.
"Inti sari dari pada buku ini adalah saat ini gerakan literasi maka saya mengajak semua orang untuk mencoba menulis apa saja yang kita mampu, setelah itu baru dibedah. Jadi jangan takut salah. Harus berani menulis baru bisa menghasilkan sesuatu yang berguna," ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakan, hal ini juga memotivasi spirit dan semangat bagi generasi muda supaya jangan pernah patah semangat sebab hidup adalah perjuangan. Dan dia berpedoman bahwa lebih baik menyalakan lilin kecil ditengah kegelapan dari pada mengutuk kegelapan.
Sementara untuk bisa menyelesaikan tulisan buku tersebut memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan dan tentunya melibatkan banyak dukungan terutama keluarga dan teman - teman terdekat.
Veronika mengaku bahwa dalam menulis buku tersebut banyak sekali kendala yang dihadapi. Salah satunya karena dia bukan guru bahasa Indonesia sehingga banyak kosa kata yang salah. Dia hanya berpedoman pada teknik penulisan ketika membuat skripsi dan tesis. Ditambah lagi dengan dia sebagai kepala sekolah,guru penggerak dan merupakan ibu rumah tangga.
Sementara Drs. Rato Marianus yang merupakan suami dari Veronika Wawo mengungkapkan rasa bangga terhadap istrinya walaupun dalam keadaan ditengah kesibukan namun bisa menyelesaikan tulisan buku ini.
Sedangkan mewakili ketua MKKS SMA se - Kota Kupang Dra. Marselina Tua., M.Si yang juga kepala sekolah SMAN 1 Kupang mengungkapkan bahwa sesama rekan kepala sekolah ini merupakan hal yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah, walaupun ditengah kesibukan nya baik sebagai kepala sekolah, guru penggerak, dan ibu rumah tangga namun bisa menyelesaikan tulisan buku ini.
"Ini merupakan suatu inspirasi bagi kami untuk bisa mengatur waktu untuk menulis. Dan saya juga sementara menulis namun belum selesai. Jadi ibu Veronika merupakan inspirasi bagi kami semua guru di kota kupang. Seperti kata Doktor dari Undana, guru mati jangan hanya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa atau guru pensiun hanya mendapat pengamatan pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi baiklah kita sebagai guru pada saat pensiun bisa mewariskannya kepada anak-anak dan teman guru yang lain," Pungkasnya. @Oscar



