ROTE NDAO, TBO - Kisah pilu seorang nenek berusia 82 tahun di sebuah kampung kecil, yakni Dusun Mepelai, Desa lifuleo, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Nenek Aranci demikian warga sekampung biasa menyapa wanita tua pemilik nama lengkap Aranci Matasina saat di temui media ini Selasa 18 Oktober 2022
Di sebuah gubuk berukuran 6 X 6 meter, nenek Aranci Matasina meneduhkan tubuhnya.
Rumah tempat nenek Aranci bernaung jauh dari kata layak. Atapnya terbuat dari seng yang sebagian nya sudah berlubang, dindingnya sebagian menggunakan pelepah gewang, sebagian masih terdapat batu cetak yang terpasang tapi beruntuhan pada bagian depan dan tengah tidak menggunakan dinding, berlantai tanah. Dan pada bagian belakang rumah nenek Aranci juga sebagian tidak memiliki dinding
Di dalam gubuk tersebut tidak ada barang yang berharga hanya ada sebuah balai – balai tempat nenek merebahkan tubuhnya yang renta.
Tempat untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) juga tidak ada. Semak belukar di dekat gubuk itu dijadikan kakus.
Masakpun sendiri untuk makan sehari – hari nenek Aranci mengharapkan uluran tangan dari tetangganya.
Kendati hidup dalam kekurangan dan belenggu kemiskinan, hingga saat ini nenek malang ini tidak pernah tersentuh bantuan pemerintah.
Bantuan rumah layak huni yang bersumber dari dana desa dan bantuan PKH juga tidak menyentuh nenek Aranci Matasina
Dalam dialeg bahasa daerah nenek Aranci menjelaskan bahwa pada tahun 2022 ini namanya sempat keluar sebagai penerima rumah bantuan yang dananya bersumber dari dana desa namun na'as pada saat SK penetapan penerimaan bantu rumah layak huni desa Lifuleo nama nenek Aranci Matasina hilang di telan dusta dan di alihkan ke orang lain yang atas nama Bai.
"Jadi nama saya sempat keluar sebagai penerima rumah bantuan akan tetapi tidak tahu permainan siapa sehingga nama saya diganti oleh orang lain atas nama Bai", ungkap nenek Aranci.
Nenek renta ini menambahkan bahwa dirinya tidak bermimpi untuk tinggal di istana yang bergelimang kemewahan. Dia hanya berharap sebuah hunian yang layak untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan panas.
"Saya tidak bermimpi untuk tinggal di istana atau rumah yang besar penuh dengan kemewahan. Saya hanya berharap mendapat bantuan hunian yang layak agar bisa melindungi diri dari hujan dan terik matahari", ujar nenek Aranci.
Terpisah Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Rote Ndao Veky Boelan., SE meminta agar pemerintah Kabupaten Rote Ndao dalam hal ini pemerintah desa Lifuleo bisa membantu memberikan rumah yang sedikit layak bagi Oma Aranci Matasina, supaya dalam sisah masa hidup tua oma Aranci bisa benar-benar menikmati dan tinggal di rumah yang sedikit layak dan bersih.
"Kita tentu meminta terimakasih banyak kepada Pemprov NTT dalam hal ini ESDM provinsi NTT yang telah membantu memberikan bantuan pemasangan meteran gratis d tahun 2021, kebetulan saya juga membantu mengusulkan ke Pemprov dan Oma Aranci termasuk salah satu penerima bantuan meteran gratis namun sangat di sayangkan kondisi rumah Oma sangat tidak layak dan memprihatinkan", Pungkas politisi partai Hanura ini. @MR/MB



