Notification

×

Astaga! Pustu dan Rumdis Dokter di Rote Timur Jadi Hunian Ternak

Kamis | Desember 29, 2022 WIB Last Updated 2022-12-28T18:32:50Z

Rote Ndao TBO -- Untuk menjamin kesehatan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalokasikan anggaran besar untuk bidang kesehatan. Salah satunya melalui proyek pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu).


Tapi sayangnya Pustu, yang bertujuan guna mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, yang sudah selesai dibangun banyak tidak dimanfaatkan sehingga pembangunan Pustu cenderung mubazir.



Pustu yang kini tidak dimanfaatkan hingga saat ini berada di Desa Faifua Kecamatan Rote Timur. Bahkan Pustu tersebut telah menjadi hunian ternak warga. Padahal Pustu tersebut sangat diharapkan membantu masyarakat karena letak Puskesmas induk berada cukup jauh.


Tidak hanya di Desa Faifua, Pustu yang berada di Desa Hundihopo juga bernasib sama. Pustu tersebut tidak pernah dimanfaatkan untuk kegiatan kesehatan dan kini kondisinya memprihatinkan.


Sejumlah warga sendiri mempertanyakan keberadaan Pustu yang tidak dimanfaatkan tersebut.


“Untuk apa dibangun kalau Pustu tersebut hanya dibiarkan begitu saja. Kami sebagai warga bingung mengapa Pustu ini belum digunakan untuk pelayanan kesehatan,” ucap Penjabat Kepala Desa Tandetui Agabus Killok kepada wartawan media ini Rabu (28/12 2022).


Agabus menambahkan, terkait infrastruktur pembangunan kesehatan yaitu Pustu yang berada di wilayah Desa Faifua dan Hundihopo, sudah tidak di huni lagi atau mubasir. Malah sekarang menjadi hunian ternak warga.


Menurut Agabus, Pustu Faifua itu masih berfungsi tapi Bidannya tidak ada dan bahkan menjadi hunian ternak, begitupun Pustu Hundihopo tidak layak lagi di pakai pasalnya temboknya sudah retak. 


"Saya berharap kalau bisa pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui dinas Kesehatan tolong perhatikan, di rehap dan di tempatkan Bidan atau Perawat di ke dua Pustu tersebut agar supaya memudahkan masyarakat dalam hal pemeriksaan kesehatan karena masyarakat sangat membutuhkan," ujar Killok.


Lebih lanjut Agabus menjelaskan, di Desa Tandetui jumlah ibu hamil sangat banyak, bahkan separuh sudah melakukan pemeriksaan, sekarang dia membawa 6 (enam) orang dan hari Sabtu nanti akan membawa lagi ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dan bahkan dirinya selalu nemantau perkembangan mereka (para Ibu hamil).


Agabus menyarankan agar supaya memudahkan masyarakat untuk tidak sampai lagi ke puskesmas maka di tempatkan bidan-bidan di kedua Pustu tersebut dan kalau bisa Puskesmas Eahun jangan cuman satu dokter tapi harus 2 (dua) dokter dan satu dokter kusus ibu hamil agar pemeriksaan itu lebih mendetail.


"Bayangkan untuk pemeriksaan hari ini oleh Bidan. Sedangkan dokternya ada di Ba'a. katanya ada rapat di Ba'a berhubungan dengan stunting dan memasuki tahun ajaran baru," katanya.


Agabus juga menginggung agar rumah dokter yang sudah ada bisa di tempati dokternya sehingga masyarakat kususnya para ibu hamil yang di Kecamatan Rote Timur bisa mendapat pemeriksaan langsung dari dokter.


"Mengingat umur kehamilan mereka semakin bertambah dan mereka terus melakukan pemeriksaan atau kontrol jadi kalau bisa dokter tetap stand by di tempat agar ketika ada pelayanan yang gawat darurat dokternya ada jadi pelayanan nya cepat tidak perlu melalui via telepon lagi. Selain itu juga jalan masih rusak jadi di takutkan setiap kali ibu hamil yang mau ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan karena jalannya rusak nanti bisa terjadi keguguran," ungkapnya.


Selai itu juga Agabus berharap terkait penerangan listrik program Presiden sudah jelas bahwa Indonesia terang tapi hingga saat ini di wilayahnya masih jauh dari kata terang.


Terpisah hal senadah juga di sampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat yang enggan mau di sebutkan namanya. dia juga menyampaikan sudah beberapa kali melakukan pengobatan di puskesmas namun tidak pernah temui dokter.


"Yang menjadi keluhan kami masyarakat Rote timur apa salahnya kalau rumah dokter yang sudah seharusnya di tempati oleh dokter," tuturnya.


Selain dari pada itu, wartawan media ini juga mencoba melakukan penelusuran di masyarakat ternyata sebagian masyarakat Kecamatan Rote Timur mengeluh soal ketersediaan obat yang ada di puskesmas Eahun dan soal kehadiran dokter yang selalu tidak berada di tempat.


Kepala UPT Puskesmas Eahun yang juga merangkap sebagai dokter, dr Hidaya Baazer saat di temui media ini di ruang rawat inap perempuan puskesmas Eahun sepekan yang lalu, dia menyatakan bahwa terkait dengan ketersediaan obat di puskesmas memang semua puskesmas mengalami hal yang sama yaitu kekurangan obat.


Kembali media ini mempertanyakan soal kekurangan obat pada puskesmas Eahun apakah keterlambatan dari pihak pihak puskesmas dalam membuat laporan permintaan obat ke gudang farmasi ataukah laporan permintaan nya sudah di dinas namun keterlambatan pengiriman obat dari pihak gudang farmasi dinas kesehatan Kabupaten Rote Ndao ke puskesmas? 


Secara spontanitas dr Hidaya Baazer menjawab kalau tanya soal itu saya tidak mau bicara karena anda sementara merekam terkait soal kehadiran dokter di puskesmas dan rumah dokter yang di tempati 


Hidaya mengatakan bahwa bukan dia tidak mau menempati Rumah Dinas (Rumdis) tapi dia di berikan tugas tambahan sebagai kepala puskesmas, jadi setiap hari ada rapat di ba'a dan dokter di puskesmas cuman saya sendiri jadi harap bisa di mengerti. @MR